Senin, 29 Desember 2025

A. Pengertian Kondensator Keramik



Kondensator keramik adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menyimpan dan melepaskan muatan listrik dengan menggunakan bahan dielektrik dari keramik. Kondensator ini banyak digunakan pada rangkaian elektronik karena ukurannya kecil, harga relatif murah, dan memiliki kestabilan yang baik pada frekuensi tinggi.

B. Prinsip Kerja

Kondensator keramik bekerja berdasarkan prinsip penyimpanan energi listrik dalam medan listrik. Ketika tegangan diberikan pada kedua kaki kondensator, muatan positif dan negatif akan terkumpul pada masing-masing pelat konduktor yang dipisahkan oleh bahan keramik sebagai dielektrik.

Kapasitansi kondensator dipengaruhi oleh:

  • Luas permukaan pelat

  • Jarak antar pelat

  • Jenis bahan dielektrik keramik

C. Struktur dan Bahan

Kondensator keramik tersusun atas:

  • Pelat konduktor (biasanya logam)

  • Dielektrik keramik (barium titanate atau sejenisnya)

  • Lapisan pelindung (coating)

Jenis keramik yang digunakan menentukan karakteristik kapasitansi dan stabilitas suhu.

D. Jenis-Jenis Kondensator Keramik

Berdasarkan karakteristik dielektriknya, kondensator keramik dibagi menjadi beberapa kelas:

a. Kelas 1 (C0G / NP0)

  • Stabil terhadap suhu dan tegangan

  • Kerugian daya sangat kecil

  • Digunakan pada rangkaian presisi dan frekuensi tinggi

b. Kelas 2 (X7R, X5R)

  • Kapasitansi lebih besar

  • Stabilitas sedang

  • Banyak digunakan pada rangkaian umum dan decoupling

c. Kelas 3 (Y5V)

  • Kapasitansi sangat besar

  • Stabilitas rendah

  • Digunakan pada rangkaian non-presisi

E. Nilai Kapasitansi dan Tegangan Kerja

Nilai kapasitansi kondensator keramik umumnya berkisar dari picoFarad (pF) hingga mikroFarad (µF).
Tegangan kerja biasanya ditandai langsung pada bodi atau berdasarkan kode pabrik.

F. Fungsi Kondensator Keramik dalam Rangkaian

Beberapa fungsi utama antara lain:

  • Bypass dan decoupling pada rangkaian IC

  • Filter sinyal

  • Peredam noise

  • Kopling sinyal AC

G. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Ukuran kecil dan ringan

  • Tidak memiliki polaritas

  • Tahan terhadap frekuensi tinggi

  • Umur pakai panjang

Kekurangan:

  • Kapasitansi terbatas (dibanding elektrolit)

  • Beberapa jenis sensitif terhadap perubahan suhu dan tegangan

H. Aplikasi Kondensator Keramik

Kondensator keramik banyak digunakan pada:

  • Rangkaian digital dan mikrokontroler (misalnya STM32 untuk decoupling catu daya)

  • Rangkaian RF dan osilator

  • Peralatan elektronik rumah tangga

  • Perangkat komunikasi

I. Kesimpulan

Kondensator keramik merupakan komponen penting dalam dunia elektronika yang berfungsi sebagai penyimpan muatan listrik dan penstabil sinyal. Pemilihan jenis kondensator keramik harus disesuaikan dengan kebutuhan rangkaian, terutama terkait stabilitas suhu, frekuensi kerja, dan nilai kapasitansi.

Rabu, 12 November 2025

RANGKAIAN ELEKTRONIKA DAYA

 

A. PENGERTIAN ELEKTRONIKA DAYA

Elektronika Daya (Power Electronics) adalah cabang ilmu elektronika yang mempelajari cara mengubah, mengatur, dan mengendalikan daya listrik menggunakan komponen semikonduktor daya seperti dioda, SCR, MOSFET, IGBT, dan TRIAC. Tujuannya adalah mengontrol aliran energi listrik dari sumber ke beban dengan efisiensi tinggi dan kecepatan kontrol yang baik.

B. FUNGSI DAN PENERAPAN ELEKTRONIKA DAYA

Fungsi utama elektronika daya meliputi:
1. Mengubah bentuk energi listrik (AC ke DC, DC ke AC, dll).
2. Mengatur tegangan dan arus.
3. Meningkatkan efisiensi energi.
4. Melindungi sistem dari lonjakan arus dan tegangan.

Penerapan elektronika daya terdapat pada rumah tangga (dimmer lampu, adaptor), industri (inverter motor, UPS), transportasi (mobil listrik), energi terbarukan (inverter PLTS), dan telekomunikasi (catu daya BTS).

C. KOMPONEN UTAMA

1. Dioda Daya – Penyearah arus AC ke DC.
2. SCR – Pengendali arus besar dengan sinyal kecil.
3. TRIAC/DIAC – Pengatur daya AC dua arah.
4. Transistor Daya (BJT, MOSFET, IGBT) – Saklar elektronik untuk daya besar.
5. Kapasitor & Induktor – Penyimpan energi dan perata tegangan.
6. Transformator – Penurun atau penaik tegangan AC.

D. JENIS-JENIS RANGKAIAN ELEKTRONIKA DAYA

1. Penyearah (Rectifier): Mengubah AC menjadi DC.
2. Konverter DC–DC: Mengubah level tegangan DC.
3. Inverter: Mengubah DC menjadi AC.
4. Pengendali Daya AC: Mengatur besar daya AC ke beban.
5. Catu Daya (Power Supply): Menyediakan tegangan DC stabil.

E. CONTOH PRAKTIS: POWER SUPPLY 12V DC

Komponen: Trafo 220V–15V, dioda bridge, kapasitor 2200 µF, IC 7812, LED.
Langkah kerja: Trafo menurunkan tegangan, dioda menyearahkan, kapasitor meratakan, IC menstabilkan tegangan, LED sebagai indikator.

F. KESELAMATAN KERJA (K3)

1. Gunakan alat pelindung diri.
2. Pastikan alat ukur dalam kondisi baik.
3. Jangan menyentuh bagian bertegangan.
4. Matikan sumber listrik sebelum mengganti komponen.
5. Gunakan sekring sebagai pelindung.

G. KESIMPULAN

Elektronika daya penting untuk mengontrol dan mengonversi energi listrik agar sesuai kebutuhan. Dengan memahami komponen dan prinsip kerja setiap rangkaian, siswa dapat merancang sistem elektronika daya yang aman, efisien, dan aplikatif.

H. EVALUASI

1. Jelaskan pengertian elektronika daya.
2. Sebutkan penerapan elektronika daya.
3. Jelaskan fungsi SCR.
4. Apa perbedaan inverter dan penyearah?
5. Mengapa kapasitor diperlukan pada penyearah?
6. Sebutkan langkah-langkah keselamatan kerja.

Senin, 10 November 2025

Materi Ajar : Macam-Macam Peralatan Bengkel Elektronika

 

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Menyebutkan berbagai jenis peralatan bengkel elektronika.
2. Menjelaskan fungsi dan cara penggunaan masing-masing alat.
3. Menunjukkan sikap disiplin, teliti, dan menjaga keselamatan kerja di bengkel elektronika.

B. Pengertian Peralatan Bengkel Elektronika


Peralatan bengkel elektronika adalah seluruh alat yang digunakan untuk merakit, memperbaiki, mengukur, dan menguji rangkaian atau komponen elektronika.
Peralatan ini dibagi menjadi dua kelompok utama:
1. Peralatan tangan (hand tools)
2. Peralatan ukur dan bantu (measuring & supporting tools)

C. Jenis-Jenis Peralatan Bengkel Elektronika

1. Peralatan Tangan (Hand Tools)

- Obeng: Mengencangkan atau mengendurkan sekrup.

- Tang: Memotong, memegang, atau melengkungkan kawat.

- Tang Potong: Memotong kaki komponen atau kabel.

- Tang Lancip: Menjangkau tempat sempit pada rangkaian.

- Solder Listrik: Menyambung komponen elektronika dengan timah solder.

- Penyedot Timah: Menghapus timah solder dari papan rangkaian.

- Pinset: Memegang komponen kecil saat proses soldering.

- Kunci Pas & Ring: Mengencangkan mur dan baut pada rangkaian atau casing alat.

- Pisau Cutter: Memotong jalur PCB atau isolasi kabel.


2. Peralatan Ukur (Measuring Instruments)

- Multimeter (AVO Meter): Mengukur tegangan, arus, dan hambatan listrik.

- Oscilloscope: Menampilkan bentuk gelombang sinyal listrik pada layar.

- Signal Generator: Menghasilkan sinyal uji (sine, square, triangle).

- LCR Meter: Mengukur nilai induktansi, kapasitansi, dan resistansi.

- Frequency Counter: Mengukur frekuensi sinyal listrik.

- Power Supply DC: Menyediakan sumber tegangan DC untuk pengujian rangkaian.


3. Peralatan Bantu (Supporting Tools)

- Breadboard: Tempat merakit rangkaian sementara tanpa solder.

- PCB (Printed Circuit Board): Tempat merakit rangkaian permanen dengan jalur tembaga.

- Kabel Penghubung / Jumper Wire: Menghubungkan antar komponen di breadboard atau PCB.

- Tempat Solder: Meletakkan solder panas agar aman.

- Timah Solder: Media penghantar untuk menyambung kaki komponen.

- Pasta Solder / Flux: Membantu proses penyolderan agar lebih cepat dan bersih.

- Kaca Pembesar / Lampu Bantu: Membantu melihat komponen kecil saat perakitan.

D. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Bengkel Elektronika

1. Gunakan alat sesuai fungsi dan petunjuk penggunaannya.
2. Pastikan tangan dan meja kerja dalam keadaan kering.
3. Jangan menyentuh ujung logam solder yang panas.
4. Matikan alat ukur setelah digunakan.
5. Gunakan kacamata pelindung saat memotong atau menyolder.
6. Simpan alat pada tempatnya setelah selesai digunakan.

E. Latihan / LKPD


1. Sebutkan 5 contoh peralatan tangan di bengkel elektronika beserta fungsinya!
2. Apa fungsi dari multimeter dan oscilloscope?
3. Jelaskan perbedaan antara breadboard dan PCB!
4. Sebutkan 3 alat bantu dalam perakitan elektronika dan fungsinya!
5. Apa saja langkah-langkah keselamatan kerja saat menggunakan solder?


Rabu, 29 Oktober 2025

Jenis-Jenis Transduser dan Prinsip Kerjanya

 1. Pengertian Transduser

Transduser adalah alat atau komponen yang berfungsi mengubah suatu bentuk energi menjadi bentuk energi lain, biasanya energi fisik menjadi sinyal listrik atau sebaliknya.

Contoh: Mikrofon mengubah energi suara menjadi sinyal listrik, sedangkan speaker mengubah sinyal listrik menjadi suara.

2. Jenis-Jenis Transduser

Transduser dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai cara:

A. Berdasarkan Fungsi

  1. Transduser Input (Sensor)

    • Mengubah energi non-listrik menjadi energi listrik.

    • Contoh: Termokopel (panas → listrik), LDR (cahaya → listrik).

  2. Transduser Output (Actuator)

    • Mengubah energi listrik menjadi energi non-listrik.

    • Contoh: Motor listrik (listrik → gerak), Speaker (listrik → suara).

  3. B. Berdasarkan Prinsip Kerja

    1. Resistif

      • Mengubah energi dengan cara perubahan resistansi.

      • Contoh:

        • LDR (Light Dependent Resistor): resistansi berubah sesuai intensitas cahaya.

        • NTC/PTC Thermistor: resistansi berubah karena suhu.

    2. Kapasitif

      • Berdasarkan perubahan kapasitansi akibat perubahan jarak atau luas permukaan.

      • Contoh: Sensor kelembaban, sensor posisi kapasitif.

    3. Induktif

      • Berdasarkan perubahan induktansi kumparan karena adanya pergeseran inti besi atau perubahan fluks magnet.

      • Contoh: LVDT (Linear Variable Differential Transformer) untuk mengukur perpindahan.

    4. Piezoelektrik

      • Kristal piezo menghasilkan tegangan listrik bila diberi tekanan/tekanan mekanis.

      • Contoh: Mikrofon piezo, sensor getaran.

    5. Elektromagnetik

      • Berdasarkan hukum induksi elektromagnetik, perubahan fluks magnet menghasilkan tegangan.

      • Contoh: Dinamo, generator, mikrofon dinamis.

    6. Fotoelektrik

      • Cahaya yang mengenai material semikonduktor menghasilkan arus/tegangan listrik.

      • Contoh: Fotodioda, fototransistor, solar cell.

    7. Termoelektrik

      • Perbedaan suhu pada sambungan dua logam menghasilkan tegangan listrik (Efek Seebeck).

      • Contoh: Termokopel.

  4. Contoh Aplikasi Tranduser

    • Industri: Sensor suhu, tekanan, dan kelembaban untuk otomasi pabrik.

    • Medis: Transduser ultrasonik untuk USG.

    • Elektronika: Mikrofon, speaker, sensor cahaya.

    • Otomotif: Sensor kecepatan roda, sensor oksigen.

  5. Pertanyaan  untuk siswa:

    1. Jelaskan pengertian transducer dan peranannya dalam sistem instrumentasi. Berikan contoh bagaimana transducer mengubah sinyal non-listrik menjadi sinyal listrik.

    2. Bandingkan antara transducer aktif dan transducer pasif. Sebutkan masing-masing satu contoh beserta prinsip kerjanya.

    3. Jelaskan prinsip kerja transducer termokopel sebagai salah satu jenis transducer aktif. Apa kelebihan dan kekurangannya dalam pengukuran suhu?

    4. Sebutkan dan jelaskan tiga jenis transducer berdasarkan prinsip operasinya (misalnya resistif, kapasitif, dan induktif). Berikan satu aplikasi masing-masing dalam industri.

    5. Diskusikan aplikasi transducer dalam sistem kontrol proses industri, seperti pengukuran tekanan. Jelaskan bagaimana output dari transducer dapat digunakan untuk menampilkan atau mengontrol besaran fisik.


Senin, 27 Oktober 2025

PENGELOLAAN BARANG SUTIRAN DARI PRODUKSI MASSAL

 A. Pengertian Barang Sutiran

Barang sutiran adalah produk hasil penyisihan atau sisa dari proses produksi massal yang masih memiliki nilai guna atau ekonomi. Barang sutiran bisa berupa:

  • Produk cacat ringan (minor defect)

  • Sisa bahan baku yang masih bisa dipakai

  • Produk yang tidak lolos standar kualitas utama tetapi tetap layak digunakan atau dijual dengan harga tertentu.

Contoh:
Dalam produksi massal tas sekolah, ada beberapa tas dengan jahitan kurang rapi — tas tersebut disebut barang sutiran.

B. Tujuan Pengelolaan Barang Sutiran

  1. Mengurangi pemborosan bahan dan biaya produksi.

  2. Memaksimalkan nilai ekonomi dari barang sisa.

  3. Menjaga kebersihan dan kerapian area produksi.

  4. Mendukung prinsip produksi berkelanjutan (zero waste).

  5. Memberikan peluang usaha baru melalui penjualan barang sutiran.

C. Jenis Barang Sutiran

  1. Barang Sutiran Layak Jual

    • Barang memiliki sedikit cacat tapi tetap berfungsi.

    • Bisa dijual dengan harga diskon atau di outlet khusus.

  2. Barang Sutiran Layak Pakai Ulang (Reuse)

    • Barang tidak bisa dijual tapi dapat digunakan kembali di proses produksi berikutnya.

  3. Barang Sutiran untuk Daur Ulang (Recycle)

    • Barang tidak dapat dipakai lagi, tetapi bahan dasarnya bisa didaur ulang.

  4. Barang Sutiran Tak Layak (Scrap)

    • Barang sudah tidak memiliki nilai guna atau nilai jual.

D. Proses Pengelolaan Barang Sutiran


E. Contoh Penerapan

Contoh pada produksi kaos sablon massal:

  • Sutiran Layak Jual: Kaos dengan sablon miring sedikit → dijual di pasar diskon.

  • Sutiran Reuse: Potongan kain masih bagus → digunakan untuk lap atau sampel sablon.

  • Sutiran Daur Ulang: Kaos rusak berat → bahan dijadikan kain perca.

F. Manfaat Pengelolaan Barang Sutiran

  • Menambah pendapatan dari penjualan sutiran.

  • Mengurangi limbah industri.

  • Meningkatkan efisiensi dan kontrol kualitas produksi.

  • Menumbuhkan kreativitas dalam mengolah barang sisa.

G. Kegiatan Pembelajaran

1. Diskusi Kelas:
Siswa membahas contoh barang sutiran di sekitar sekolah atau industri rumahan.

2. Praktik:
Siswa diminta mengelola barang sutiran dari kegiatan produksi massal sederhana (misal: membuat gantungan kunci dari sisa akrilik atau kain perca).

3. Refleksi:
Siswa menulis laporan tentang hasil pengelolaan barang sutiran dan manfaat yang diperoleh.

H. Penilaian


I. Kesimpulan

Pengelolaan barang sutiran adalah bagian penting dari sistem produksi massal yang efisien dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, barang sisa dapat diubah menjadi sumber keuntungan dan sarana pembelajaran kewirausa

Selasa, 21 Oktober 2025

Materi Ajar: Produksi Massal

A. Pengertian Produksi Massal

Produksi massal adalah proses pembuatan barang dalam jumlah besar (massal) dengan standar kualitas yang sama menggunakan mesin, peralatan otomatis, dan sistem kerja berulang.
Tujuan utamanya adalah efisiensi waktu, biaya, dan tenaga untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi.

B. Ciri-ciri Produksi Massal

  1. Produk dibuat dalam jumlah besar dan seragam.

  2. Menggunakan mesin otomatis atau semi otomatis.

  3. Proses produksi dilakukan secara berkelanjutan dan berurutan.

  4. Membutuhkan perencanaan dan pengendalian produksi yang ketat.

  5. Tenaga kerja lebih banyak berperan sebagai pengendali mesin daripada pembuat produk secara langsung.

C. Tahapan Produksi Massal

  1. Perencanaan Produksi

    • Menentukan produk, bahan baku, dan target produksi.

    • Membuat desain dan spesifikasi produk.

  2. Persiapan Produksi

    • Menyediakan mesin, alat, dan bahan baku.

    • Melatih tenaga kerja.

  3. Proses Produksi

    • Produksi dilakukan secara berulang dengan sistem lini (line production).

    • Pengawasan mutu dilakukan pada setiap tahap.

  4. Pengemasan dan Penyimpanan

    • Produk dikemas sesuai standar dan disimpan di gudang.

  5. Distribusi

    • Produk dikirim ke pasar atau konsumen secara massal.

D. Kelebihan Produksi Massal

  1. Biaya produksi per unit lebih murah.

  2. Waktu produksi lebih singkat.

  3. Kualitas produk lebih seragam.

  4. Mampu memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar.

E. Kekurangan Produksi Massal

  1. Kurang fleksibel terhadap perubahan desain produk.

  2. Investasi awal sangat besar (mesin dan teknologi).

  3. Membutuhkan perawatan mesin secara rutin.

  4. Risiko kerugian besar jika produk tidak laku di pasaran.

F. Contoh Produk yang Menggunakan Sistem Produksi Massal

  • Kendaraan bermotor (mobil, sepeda motor)

  • Elektronik (TV, HP, kulkas)

  • Pakaian dan sepatu

  • Makanan dan minuman kemasan

  • Peralatan rumah tangga

G. Aspek yang Harus Diperhatikan dalam Produksi Massal

  1. Kualitas bahan baku – harus seragam agar hasil produk tidak bervariasi.

  2. Desain produk standar – agar mudah diproduksi dengan mesin.

  3. Manajemen produksi – perencanaan, pengawasan, dan evaluasi.

  4. K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) – menjaga keamanan pekerja dan alat.

  5. Pemeliharaan mesin – untuk mencegah kerusakan saat produksi berlangsung.

H. Rangkuman

Produksi massal merupakan cara produksi dengan skala besar menggunakan mesin dan sistem kerja berulang. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi dan memenuhi kebutuhan pasar. Walau efisien, sistem ini memerlukan investasi besar dan tidak cocok untuk produk yang sering berubah desain.

 I. Latihan / Soal Pemahaman

  1. Jelaskan pengertian produksi massal dengan kata-katamu sendiri.

  2. Sebutkan tiga ciri utama dari produksi massal.

  3. Apa kelebihan dan kekurangan sistem produksi massal?

  4. Jelaskan tahapan utama dalam proses produksi massal.

  5. Berikan contoh produk yang dihasilkan dengan sistem produksi massal dan alasannya. 

Senin, 20 Oktober 2025

MANAJEMEN KEUANGAN PRODUKSI MASSAL

 A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian manajemen keuangan dalam produksi massal.

  2. Menyebutkan komponen biaya dalam kegiatan produksi massal.

  3. Menyusun perencanaan dan penganggaran biaya produksi.

  4. Menghitung harga pokok produksi (HPP) dan menentukan harga jual produk.

  5. Mengelola laporan keuangan sederhana pada kegiatan produksi massal.

B. Pengantar Materi

Manajemen keuangan dalam produksi massal sangat penting untuk memastikan bahwa kegiatan produksi berjalan efisien, ekonomis, dan menguntungkan.
Dalam dunia industri maupun kewirausahaan, pengelolaan keuangan menjadi faktor penentu keberhasilan usaha.

C. Pengertian Manajemen Keuangan Produksi Massal

Manajemen keuangan produksi massal adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian keuangan yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dalam jumlah besar.

Tujuannya adalah agar seluruh aktivitas produksi dapat berjalan lancar dengan biaya yang efisien dan hasil yang maksimal.

D. Komponen Biaya Produksi Massal

Dalam produksi massal, biaya yang perlu dikelola meliputi:

  1. Biaya Bahan Baku Langsung
    → Semua bahan yang digunakan langsung dalam proses produksi (misalnya kayu untuk meja, kain untuk pakaian, komponen elektronik, dll).

  2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
    → Upah pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi.

  3. Biaya Overhead Pabrik (BOP)
    → Biaya tidak langsung seperti listrik, air, perawatan mesin, penyusutan alat, dll.

  4. Biaya Distribusi dan Pemasaran
    → Biaya transportasi, kemasan, promosi, dan pengiriman produk.

  5. Biaya Administrasi dan Umum
    → Biaya pengelolaan keuangan, alat tulis, administrasi, dan operasional kantor.

E. Perencanaan dan Penganggaran Produksi

Langkah-langkah penyusunan anggaran produksi massal:

  1. Menentukan target produksi (jumlah unit yang akan diproduksi).

  2. Menghitung kebutuhan bahan baku berdasarkan target produksi.

  3. Menghitung kebutuhan tenaga kerja dan waktu kerja.

  4. Menentukan biaya produksi total.

  5. Menyusun rencana anggaran dan arus kas (cash flow) agar modal kerja dapat digunakan secara efektif.

F. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP)

HPP digunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit produk.

Rumus HPP:

HPP=Biaya Bahan Baku+Biaya Tenaga Kerja Langsung+Biaya Overhead Pabrik\text{HPP} = \text{Biaya Bahan Baku} + \text{Biaya Tenaga Kerja Langsung} + \text{Biaya Overhead Pabrik}

Contoh:

  • Bahan baku: Rp 2.000.000

  • Tenaga kerja: Rp 1.000.000

  • Overhead pabrik: Rp 500.000

Maka:


HPP = 2.000.000 + 1.000.000 + 500.000 = Rp 3.500.000

Jika hasil produksi 100 unit produk, maka HPP per unit = Rp 35.000,-

G. Menentukan Harga Jual Produk

Harga jual ditentukan dengan menambahkan margin keuntungan pada HPP.

Rumus Harga Jual:

Harga Jual=HPP+(HPP×Persentase Laba)\text{Harga Jual} = \text{HPP} + (\text{HPP} \times \text{Persentase Laba})

Contoh:
Jika laba yang diinginkan 30% →
Harga jual = 35.000 + (35.000 × 30%) = Rp 45.500 per unit

H. Pengelolaan dan Laporan Keuangan

Agar keuangan terkontrol, perlu dibuat laporan sederhana seperti:

  1. Laporan Kas Masuk dan Keluar

  2. Laporan Laba Rugi Produksi

  3. Laporan Persediaan Bahan dan Produk Jadi

Contoh tabel sederhana:

TanggalKeteranganKas Masuk (Rp)Kas Keluar (Rp)Saldo (Rp)
01/09/25Modal awal5.000.000-5.000.000
03/09/25Beli bahan baku-2.000.0003.000.000
05/09/25Penjualan produk4.500.000-7.500.000

I. Evaluasi Manajemen Keuangan

Setiap akhir periode produksi, lakukan evaluasi untuk:

  • Menilai efisiensi penggunaan bahan dan tenaga kerja.

  • Menganalisis keuntungan dan kerugian.

  • Menyusun rencana peningkatan produksi berikutnya.

J. Kesimpulan

Manajemen keuangan dalam produksi massal berperan penting untuk menjaga keseimbangan antara biaya, pendapatan, dan keuntungan.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, usaha produksi dapat terus berkembang dan berkelanjutan.


Rabu, 08 Oktober 2025

LDR (LIGHT DEPENDENT RESISTOR)

 1. Pengertian LDR

LDR (Light Dependent Resistor) atau resistor peka cahaya adalah jenis resistor yang nilai resistansinya berubah-ubah sesuai dengan intensitas cahaya yang mengenainya.

  • Saat cahaya terang, resistansinya menurun.

  • Saat cahaya redup atau gelap, resistansinya meningkat.

Komponen ini sering digunakan pada sistem otomatisasi seperti lampu jalan otomatis, alarm cahaya, dan sensor robot.

2. Prinsip Kerja LDR

LDR bekerja berdasarkan efek fotokonduktivitas, yaitu kemampuan bahan semikonduktor untuk mengubah konduktivitas listriknya ketika terkena cahaya.

  • Tanpa cahaya (gelap): Elektron pada LDR sulit bergerak, sehingga hambatan besar (ratusan kilo ohm).

  • Dengan cahaya (terang): Cahaya memberikan energi pada elektron, membuatnya bebas bergerak dan menurunkan hambatan (menjadi beberapa ratus ohm).

3. Simbol dan Bentuk LDR

Simbol LDR:


Biasanya digambarkan seperti resistor dengan dua panah yang mengarah ke resistor (melambangkan cahaya).

Bentuk Fisik:

LDR biasanya berbentuk bulat kecil dengan permukaan bergelombang (pola zig-zag), terbuat dari bahan cadmium sulfide (CdS) atau cadmium selenide (CdSe).

4. Karakteristik LDR


Semakin terang cahaya → semakin kecil nilai resistansi.

5. Rangkaian Dasar LDR

a. Rangkaian Pembagi Tegangan (Voltage Divider)

LDR biasanya dikombinasikan dengan resistor tetap untuk membentuk pembagi tegangan:

Vout = (R2 / (R1 + R2)) × Vin

Jika:

  • R1 = LDR

  • R2 = resistor tetap

Maka tegangan keluaran (Vout) akan berubah-ubah sesuai intensitas cahaya.

b. Contoh Rangkaian: Lampu Otomatis

  • LDR dihubungkan ke basis transistor.

  • Ketika gelap, resistansi LDR tinggi → transistor aktif → lampu menyala.

  • Ketika terang, resistansi LDR rendah → transistor off → lampu mati.

6. Contoh Penggunaan LDR

  1. Lampu taman otomatis (nyala saat malam).

  2. Robot line follower (mendeteksi garis terang/gelap).

  3. Sensor keamanan (alarm saat cahaya terhalang).

  4. Pengatur intensitas layar otomatis pada smartphone.

7. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Harga murah dan mudah didapat.

  • Tidak memerlukan sumber daya tambahan.

  • Respons cepat terhadap perubahan cahaya.

Kekurangan:

  • Tidak akurat untuk pengukuran intensitas cahaya presisi.

  • Respons lebih lambat dibanding sensor fotodioda.

  • Tidak bekerja baik pada suhu ekstrem.

8. Percobaan Sederhana

Tujuan: Mengamati perubahan resistansi LDR terhadap cahaya.
Alat dan Bahan:

  • 1 buah LDR

  • Multimeter

  • Senter

  • Penggaris

Langkah:

  1. Hubungkan LDR ke multimeter (mode ohm).

  2. Ukur resistansi dalam kondisi gelap.

  3. Nyalakan senter dari jarak 10 cm, 5 cm, dan 2 cm.

  4. Catat hasil perubahan resistansi.

Hasil:
Semakin dekat dan terang cahaya → nilai resistansi semakin kecil.

9. Contoh Penerapan di Mikrokontroler (Arduino)

int LDR = A0;      // pin sensor

int LED = 9;       // pin LED

int nilaiLDR = 0;


void setup() {

  pinMode(LED, OUTPUT);

  Serial.begin(9600);

}


void loop() {

  nilaiLDR = analogRead(LDR);

  Serial.println(nilaiLDR);

  

  if (nilaiLDR < 500) {   // kondisi gelap

    digitalWrite(LED, HIGH);

  } else {                // kondisi terang

    digitalWrite(LED, LOW);

  }

  delay(500);

}


Prinsipnya sama seperti lampu otomatis: LED menyala saat gelap dan mati saat terang.

10. Kesimpulan

LDR adalah komponen penting dalam sistem sensor cahaya. Nilai resistansinya berubah sesuai intensitas cahaya yang diterima, sehingga bisa digunakan untuk membuat sistem otomatis seperti lampu otomatis, alarm, atau robot sensor cahaya.


Klik disini untuk Jenis-jenis tranduser

Senin, 06 Oktober 2025

Pemanfaatan Limbah Industri untuk Kerajinan

 

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian limbah industri dan jenis-jenisnya.

  2. Mengidentifikasi potensi limbah industri yang dapat dimanfaatkan untuk kerajinan.

  3. Menjelaskan teknik pengolahan limbah industri menjadi produk kerajinan.

  4. Membuat karya kerajinan sederhana dari limbah industri dengan memperhatikan nilai estetika dan ekonomi.

B. Pengertian Limbah Industri

Limbah industri adalah sisa hasil proses produksi di pabrik atau industri yang tidak terpakai dan dibuang. Limbah ini bisa berupa padat, cair, gas, atau bahan berbahaya dan beracun (B3).

Namun, tidak semua limbah harus dibuang — sebagian besar dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk berguna dan bernilai ekonomi tinggi.

C. Jenis-Jenis Limbah Industri

  1. Limbah Padat
    Contoh: potongan kain dari industri tekstil, serbuk kayu dari industri mebel, potongan logam, plastik, atau kertas dari industri percetakan.

  2. Limbah Cair
    Contoh: sisa pewarna dari industri batik, limbah cair dari pabrik makanan. (Biasanya perlu pengolahan khusus agar aman bagi lingkungan).

  3. Limbah Gas
    Contoh: asap pabrik — jarang dimanfaatkan secara langsung dalam kerajinan, tetapi dapat diolah menjadi energi alternatif dengan teknologi tertentu.

  4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
    Contoh: oli bekas, cat, bahan kimia — tidak disarankan untuk kerajinan karena berbahaya bagi kesehatan.

D. Contoh Limbah Industri yang Dapat Dimanfaatkan untuk Kerajinan


E. Teknik Pengolahan Limbah Industri Menjadi Kerajinan

  1. Pembersihan – Limbah dibersihkan dari kotoran agar aman dan layak pakai.

  2. Pemilahan – Memisahkan limbah berdasarkan jenis dan bahan.

  3. Pemotongan / Pembentukan – Limbah dipotong sesuai kebutuhan desain.

  4. Perakitan / Penyusunan – Menyusun bagian-bagian limbah menjadi bentuk kerajinan.

  5. Finishing – Pewarnaan, pelapisan, atau pelapisan pernis untuk memperindah hasil akhir.

G. Contoh Produk Kerajinan dari Limbah Industri

  1. Tas dari kain perca.

  2. Hiasan dinding dari serbuk kayu.

  3. Lampu hias dari kaleng bekas.

  4. Tempat tisu dari kertas karton bekas.

  5. Pot bunga dari botol plastik bekas.


H. Proyek Praktik Sederhana

Judul: Pembuatan Kerajinan Tas dari Kain Perca
Alat dan Bahan:

  • Kain perca

  • Benang dan jarum / mesin jahit

  • Resleting / kancing

  • Gunting

Langkah-langkah:

  1. Pilih dan bersihkan kain perca.

  2. Potong sesuai desain.

  3. Jahit setiap bagian hingga membentuk tas.

  4. Tambahkan hiasan dan finishing.

Hasil Akhir: Tas kreatif berbahan limbah kain yang memiliki nilai jual.


I. Penilaian



J. Kesimpulan

Pemanfaatan limbah industri untuk kerajinan bukan hanya bentuk kreativitas, tetapi juga kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan dan menciptakan peluang ekonomi baru. Dengan memanfaatkan bahan yang dianggap sampah, kita bisa menghasilkan karya yang indah, berguna, dan bernilai jual tinggi.

Tugas LKPD


MANAJEMEN KEUANGAN PRODUKSI MASSAL

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DALAM PRODUKSI PERUSAHAAN

 A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian K3 dan tujuannya dalam dunia kerja.

  2. Mengidentifikasi penerapan K3 dalam proses pembuatan produk perusahaan.

  3. Menunjukkan sikap kerja aman, disiplin, dan bertanggung jawab dalam kegiatan produksi.

  4. Menjelaskan dampak jika K3 tidak diterapkan di lingkungan kerja atau produksi.

B. Pengertian K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

K3 adalah upaya yang dilakukan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, peralatan, lingkungan kerja, serta hasil produksi agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Dasar Hukum:

  1. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

  2. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

  3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen K3 (SMK3).

C. Tujuan Penerapan K3 dalam Produksi

  1. Melindungi tenaga kerja dari bahaya kerja.

  2. Menjaga kualitas dan keamanan produk perusahaan.

  3. Mencegah kecelakaan dan kerugian akibat kerusakan alat atau bahan.

  4. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

  5. Menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman.

D. Ruang Lingkup K3 dalam Produksi Perusahaan

K3 tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga berkaitan langsung dengan produk yang dihasilkan perusahaan. Beberapa penerapannya meliputi:

  1. Keselamatan Bahan dan Alat Produksi

    • Gunakan alat yang aman, terawat, dan sesuai standar.

    • Hindari penggunaan bahan berbahaya tanpa perlindungan.

    • Pastikan mesin memiliki pelindung (safety guard).

  2. Kesehatan Pekerja

    • Gunakan alat pelindung diri (APD): helm, masker, sarung tangan, kacamata, sepatu kerja.

    • Hindari paparan bahan kimia berbahaya.

    • Pastikan sirkulasi udara dan pencahayaan di ruang kerja baik.

  3. Kebersihan dan Kerapian Area Produksi

    • Lingkungan kerja yang bersih mencegah kecelakaan seperti tergelincir atau kebakaran.

    • Pisahkan area bahan baku, proses, dan produk jadi agar tidak tercemar.

  4. Keamanan Produk

    • Produk harus aman digunakan konsumen (food grade, tidak beracun, tidak mudah rusak).

    • Setiap produk harus melalui uji kualitas (quality control) sebelum dipasarkan.

    • Beri label peringatan atau petunjuk penggunaan pada produk yang berisiko.

  5. Prosedur Darurat dan Tanggap Bahaya

    • Sediakan alat pemadam kebakaran (APAR).

    • Latih pekerja melakukan evakuasi saat keadaan darurat.

    • Pasang tanda peringatan dan jalur evakuasi yang jelas.



F. Dampak Jika K3 Tidak Diterapkan

  1. Terjadi kecelakaan kerja seperti luka, kebakaran, atau kerusakan alat.

  2. Penurunan kualitas produk (produk rusak, terkontaminasi, atau tidak layak jual).

  3. Kerugian perusahaan akibat kerusakan mesin atau klaim konsumen.

  4. Turunnya produktivitas karena pekerja sakit atau lingkungan tidak aman.

  5. Citra perusahaan menjadi buruk di mata masyarakat.

G. Sikap yang Harus Dimiliki Pekerja terhadap K3

  1. Disiplin dan taat pada aturan keselamatan.

  2. Peduli terhadap kebersihan dan keamanan lingkungan kerja.

  3. Menggunakan APD setiap saat di area produksi.

  4. Melaporkan segera jika terjadi kerusakan alat atau bahaya kerja.

  5. Bekerja sesuai prosedur tanpa mengambil risiko.

H. Contoh Penerapan di Sekolah (Mini Project)

Peserta didik membuat simulasi penerapan K3 dalam proses pembuatan produk kewirausahaan, misalnya:

  • Membuat makanan ringan dengan memperhatikan kebersihan alat dan bahan.

  • Membuat kerajinan dengan memakai sarung tangan dan masker.

  • Menyusun laporan tentang bagaimana K3 diterapkan selama proses produksi.

I. Penugasan

1.Tugas Individu:

Soal Esai 

(Kerjakan dalam buku tugas kaian)

  1. Jelaskan pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam kegiatan produksi!

  2. Mengapa penerapan K3 sangat penting dalam proses produksi barang atau jasa? Jelaskan alasannya!

  3. Sebutkan 3 tujuan utama penerapan K3 di tempat kerja produksi!

  4. Berikan contoh potensi bahaya kerja yang dapat terjadi dalam kegiatan produksi makanan atau kerajinan!

  5. Jelaskan fungsi alat pelindung diri (APD) dalam kegiatan produksi dan sebutkan contohnya!

  6. Bagaimana cara menerapkan K3 pada penggunaan alat dan mesin produksi agar terhindar dari kecelakaan kerja?

  7. Jelaskan hubungan antara kebersihan lingkungan kerja dengan kesehatan dan keselamatan kerja!

  8. Apa yang harus dilakukan apabila terjadi kecelakaan kerja ringan saat proses produksi berlangsung?

  9. Jelaskan dampak yang dapat terjadi apabila K3 tidak diterapkan dalam kegiatan produksi!

  10. Buatlah contoh penerapan K3 dalam usaha kecil atau usaha sekolah yang sedang atau pernah kalian lakukan!

2. LKPD


Senin, 29 September 2025

Jenis-Jenis Izin Usaha Produksi dan Cara Pembuatannya

 A. Pengertian Izin Usaha Produksi

Izin usaha produksi adalah legalitas resmi dari pemerintah yang diberikan kepada pelaku usaha agar dapat melakukan kegiatan produksi barang/jasa secara sah, teratur, dan sesuai dengan ketentuan hukum.
Tujuannya:

  • Memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha.

  • Melindungi konsumen dari produk yang tidak layak.

  • Menjamin usaha berjalan sesuai standar keselamatan, kesehatan, dan lingkungan.

B. Jenis-Jenis Izin Usaha Produksi

  1. Nomor Induk Berusaha (NIB)

    • Dikeluarkan melalui sistem OSS (Online Single Submission).

    • NIB berfungsi sebagai identitas resmi pelaku usaha.

    • NIB berlaku sekaligus sebagai Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Angka Pengenal Impor (API), dan Akses Kepabeanan.


  2. Izin Usaha Industri (IUI)


    • Diperlukan bagi perusahaan yang memiliki kegiatan di bidang industri manufaktur atau pabrikasi.

    • Diatur oleh Kementerian Perindustrian.

    • Ada 2 kategori:

      • IUI kecil (industri dengan investasi kecil-menengah).

      • IUI besar (industri dengan skala investasi besar).

  3. Izin Produksi Pangan Olahan

    • Untuk usaha makanan dan minuman.

    • Ada dua lembaga penerbit:

      • BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk skala besar.


      • PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga Pangan) yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk skala UMKM.


  4. Sertifikat Halal


    • Dikeluarkan oleh BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) di bawah Kementerian Agama.

    • Penting untuk usaha makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan, dan produk konsumsi lainnya.

  5. Izin Lingkungan (Persetujuan Lingkungan / AMDAL atau UKL-UPL)

    • Untuk usaha yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

    • Wajib bagi industri manufaktur, kimia, pertambangan, dan usaha berskala besar.

  6. Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Produksi

    • Meliputi hak paten, hak cipta, dan merek dagang.

    • Berguna melindungi produk agar tidak ditiru pihak lain.

C. Cara Pembuatan Izin Usaha Produksi

  1. Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB)

    • Akses situs OSS (https://oss.go.id/).

    • Daftar akun dan isi data pelaku usaha.

    • Unggah dokumen yang dibutuhkan (KTP, NPWP, akta pendirian usaha bagi badan hukum).

    • Setelah diverifikasi, sistem akan menerbitkan NIB.

  2. Mengurus Izin Usaha Industri (IUI)

    • Mengajukan permohonan melalui OSS.

    • Melengkapi data teknis usaha (lokasi pabrik, luas tanah, kapasitas produksi, jumlah tenaga kerja).

    • OSS akan menerbitkan izin setelah dokumen lengkap.

  3. Mengurus Izin Produksi Pangan (PIRT atau BPOM)

    • Untuk PIRT:

      • Mengikuti penyuluhan keamanan pangan di Dinas Kesehatan.

      • Mengajukan permohonan dengan membawa contoh produk, KTP, foto tempat produksi.

      • Pemeriksaan lapangan oleh petugas.

      • Jika lolos, izin PIRT diterbitkan.

    • Untuk BPOM:

      • Mendaftar melalui sistem e-registrasi BPOM.

      • Mengunggah dokumen teknis produk, komposisi, proses produksi, dan label kemasan.

      • Produk diuji laboratorium.

      • Jika memenuhi syarat, BPOM mengeluarkan nomor izin edar.

  4. Mengurus Sertifikat Halal

    • Daftar di siHalal (https://ptsp.halal.go.id/).

    • Isi data usaha dan produk.

    • Unggah dokumen (komposisi bahan, proses produksi, lokasi usaha).

    • Audit halal dilakukan oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

    • Jika memenuhi syarat, diterbitkan sertifikat halal oleh BPJPH.

  5. Mengurus Izin Lingkungan (UKL-UPL atau AMDAL)

    • Menyusun dokumen lingkungan sesuai skala usaha.

    • Mengajukan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

    • Setelah diverifikasi dan disetujui, izin lingkungan diberikan.

  6. Mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)

    • Daftar di situs DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual).

    • Isi formulir online sesuai jenis HAKI (merek, paten, desain industri).

    • Bayar biaya pendaftaran.

    • Jika lolos pemeriksaan, HAKI resmi diterbitkan.

D. Kesimpulan

  • Izin usaha produksi adalah dokumen legal yang wajib dimiliki oleh pelaku usaha agar kegiatan produksi sah secara hukum.

  • Jenis izin yang umum antara lain: NIB, IUI, PIRT/BPOM, Sertifikat Halal, Izin Lingkungan, dan HAKI.

  • Proses pembuatan izin kini lebih mudah karena dapat dilakukan secara online melalui OSS dan lembaga terkait.